Kumpulan Materi Pelajaran Bahasa Indonesia

Cara Menulis Yang Baik Dan Ciri-Ciri Tulisan Yang Baik Lengkap Menurut Para Ahli


Cara Menulis Yang Baik Ciri-Ciri Tulisan Yang Baik - Asas asas menulis menurut para ahli seperti Nuruddin (2011:39 46) dalam buku yang berjudul Dasar Dasar Penulisan. Dalam presentasinya, ia memberikan contoh kalimat yang berbunyi “Ayah orang ini adalah ayah anak saya yang ayahnya sedang sakit diobati anak tetangga saya”. Pada kalimat tersebut, siapakah orang yang dimaksud? Berdasarkan contoh tersebut, kegiatan menulis memerlukan asas asas menulis yang dijelaskan berikut ini.


Cara Menulis Yang Baik Dan Ciri-Ciri Tulisan Yang Baik



1.    Kejelasan ( clarity)
Asas kejelasan memberikan kemudahan bagi pembaca. Tulisan penulis dapat dibaca dan dimengerti oleh pembaca. Tulisan tidak menimbulkan salah tafsir. Ide tidak samar samar atau kabur. Mengutip pendapat HW Fowler, asas kejelasan tampak pada tulisan yang menggunakan kata umum, bukan kata khusus. Tulisan juga bersifat konkret (bukan abstrak), tunggal (bukan panjang lebar), pendek (bukan panjang), menggunakan bahasa sendiri (bukan bahasa asing).

2.    Keringkasan (consiseness)
Asas keringkasan harus diperhatikan penulis agar tidak membuang buang waktu pembaca. Meskipun demikian, bukan berarti tulisan harus pendek, melainkan tidak menggunakan bahasa yang berlebihan. TTidak menghamburkan kata secara semena mena, tidak mengulang, tak berputar putar dalam menyampaikan gagasan.

3.    Ketepatan ( correctness)
Asas ketepatan dapat menyebabkan asumsi penulis mengalami titik kesamaan dengan pembaca. Suatu penulisan harus dapat menyampaikan butir gagasan kepada pembaca dengan kecocokan seperti yang dimaksud penulisnya. Artinya, tidak terjadi kesalahan berasumsi hingga menimbulkan kesalahartian oleh pembaca. Akibatnya, pesan penulis tidak dapat dipahami dengan baik oleh pembaca.

4.    Kesatupaduan (unity)
Kesatupaduan gagasan pokok dalam tiap paragraf harus diperhatikan menulis dalam menguraikan ga
gasan/pikiran. Pembaca dimudahkan dalam menangkap ide ide penulis. Ide ide utama dapat dengan mudah ditangkap oleh pembaca dengan bantuan ide ide penjelas.

5.    Pertautan (coherence)
Antarbagian tulisan harus bertautan satu sama lain (antar alenia atau kalimat). Tautan tautan ini mempermudah pembaca untuk menangkap gagasan yang disampaikan penulis.

6.    Penegasan (emphasis)
Adanya penonjolan atau memiliki derajat perbedaan antarbagian dalam tulisan memberikan kemudahan kepada pembaca dalam menangkap tekanan ide ide tertentu. Dengan demikian, ide ide besar yang dimiliki penulis dapat dipahami dengan baik oleh pembaca

Ciri-Ciri Tulisan Yank Baik
Asas asas menulis di atas diharapkan membawa penulis menghasilkan tulisan yang baik. Berikut ini ciri ciri tulisan yang baik.
1. Memiliki kejujuran penulis
Kepribadian penulis sebenarnya tampak dari hasil menulis. Sikap jujur penulis
tampak dalam tulisan tulisan yang dihasilkan. Sikap adil dalam merujuk pendapat orang lain dengan mencatumkan rujukan tampak pada tulisan. Tidak ada unsur kesengajaan dalam menjiplak tulisan
tulisan orang lain, kecuali faktor lupa yang dapat dianggap sebagai suatu kewajaran.

2. Dihasilkan dari kerangka karangan
Karangan tulisan yang baik dihasilkan dari perencanaan yang baik pula. Perencanaan karangan tulisan memberikan keleluasaan penulis dalam mendaftar, mengurutkan, dan menuangkan gagasan yang dimiliki ke dalam bentuk tulisan. Tidak ada gagasan yang tertinggal. Tidak ada pula lompatan
lompatan gagasan. Tulisan menjadi sistematis dan gagasan mudah dipahami pembaca.

3. Kemenarikan tulisan
Kemenarikan tulisan dapat muncul dari kemasan judul dan isi bacaan. Prinsip prinsip penulisan judul harus dipatuhi penulis. Misalnya judul harus memcerminkan isi karangan, jumlah kata yang proporsional, dan menumbuhkan rasa penasaran. Ketertarikan pembaca akan memunculkan minat untuk membaca tulisan.

4.Kemurnian gagasan
Kemanarikan tulisan juga ditentukan oleh kemurnian gagasan/pikiran. Jika gagasan/pikiran sudah banyak disampaikan oleh orang lain, akan muncul kejenuhan, kebosanan, dan rasa basi bagi pembaca. Tulisan ini tidak memberikan daya tarik yang cukup untuk dibaca. Penulis dapat menuangkan gagasannya dari kejadian/peristiwa yang terjadi dalam kehidupan nyata, berimajinasi, dan bersumber dari kajian pustaka dan pengembangannya. Namun perlu diingat bahwa pengangkatan gagasan/pikiran yang bersumber dari tulisan orang lain memiliki konsekuensi. Penulis yang merujuk pendapat penulis utama harus mencatumkan nama dan tahun dalam kegiatan merujuk dan mencantumkan daftar rujukan (di saat lain, digunakan daftar pustaka) di akhir tulisan. Penghargaan kepada penulis utama layak diberikan.

5.Memiliki gagasan/ide utama dan penjelas
Tulisan yang baik memiliki gagasan utama. Gagasan utama dikemas secara deduktif, induktif, atau campuran. Gagasan utama ini diwujudkan melalui kalimat utama. Gagasan utama ini dijelaskan oleh gagasan penjelas. Gagasan penjelas ini diwujudkan melalui kalimat penjelas.

6.Kesatuan gagasan
Tulisan terdiri atas berbagai gagasan/pikiran, baik bersifat utama maupun penjelas. Penulis bukan hanya menyebar dan menjabarkan gagasan, melainkan harus menyatukan dengan baik. Kesatuan gagasan dapat memberikan pemahaman yang baik kepada pembaca.

7.Keruntutan gagasan
Tulisan yang baik seharusnya memiliki keruntutun gagasan/pikiran yang baik. Penulis bukan hanya menjabarkan gagasan dalam tulisan, melainkan harus menata dan mengurutkan gagasan. Hal ini bertujuan untuk menyusun dan menentukan urutan pemahaman pembaca sehingga menerima pesan penulis dengan baik.

8. Kohesi dan koheren
Hubungan keterikatan dalam tulisan mutlak diperlukan. Hubungan keterikatan ini disebut koherensi dan kohesi. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, koherens adalah hubungan logis antar kalimat sebuah paragraf. Hubungan logis ini dibangun untuk menciptakan kesatuan makna. Kalimat kalimat yang dirangkai dan dipisahkan dengan tanda titik (.) ini memiliki hubungan yang dapat diterima dengan akal. Hubungan ini erat kaitannya dengan makna sebagai bentuk kalimat penjelas dari kalimat utama. Semakin erat dan logis hubungan kalimat akan semakin mempermudah pemahaman pembaca atas rangkaian makna yang tersaji. Kohesi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah keterikatan antarunsur dalam struktur sintaksis atau struktur wacana dengan penanda konjugasi,pengulangan, penyulihan, dan pelesapan. Selain memiliki hubungan logis antarkalimat, paragraf memiliki keterikatan unsur unsur pembangun sebagai penanda. Unsur unsur ini memiliki keterikatan erat karena merujuk pada acuan kalimat sebelumnya. Jika koherensi mengacu pada rujukan makna, acuan kohesi adalah unsur unsur penanda struktur kalimat, misalkan Dia tetap berangkat sekolah meskipun hujan 

9.Kelogisan
Kelogisan tulisan merupakan faktor mudah tidaknya tulisann diterima pembaca. Jika tulisan dapat diterima akal, pembaca akan menuntaskan bacaan. Namun, jika banyak ditemukan tulisan yang tidak dapat diterima akal, pembaca belum tentu akan menuntaskan bacaan. Dengan demikian, sia sia saja usaha penulis dalam menyajikan gagasannya.

10.Penekanan
Dalam sebuah tulisan terdapat berbagai sebaran gagasan. Jika penulis hendak memberikan perhatian khusus sebuah gagasan, dapat digunakan sebuah penekanan. Penekanan pada bagian tertentu sebuah tulisan memberikan kemudahan pembaca dalam menangkap gagasan yang dikhususkan oleh penulis.

11. Bahasa yang sesuai dengan kelompok pembaca
Kemampuan bahasa kelompok pembaca seharusnya menjadi perhatian bagi penulis. Gagasan penulis jika disampaikan dengan bahasa yang tidak dipahami oleh pembaca akan sia sia. Setidaknya, penulis dapat memperkirakan kemampuan sasaran pembaca tulisannya, misalnya (a) ditujukan untuk anak anak, remaja, atau dewasa atau (b) ditujukan untuk orang awam/di luar bidang yang digeluti.

12. Dipahami oleh kelompok pembaca
Ciri terakhir tulisan yang baik tentu harus dipahami oleh pembaca. Harapannya, tiap gagasan yang dituangkan penulis dapat dipahami dengan baik oleh pembaca. Jika tidak dapat dipahami, kerugian ditanggung penulis dan pembaca. Gagasan penulis tidak dapat diterima pembaca dan pembaca mengalami kerugian materi dan waktu.

Dengan adanya info diatas mengenai seputar cara menulis yang baik dan ciri ciri tulisan yang baik semoga bermanfaat,bagi yg inginmengetahaui informasi lain seperti Pengertian Membaca silahkan cek diweb ini dengan postingan yang berbeda,dari awal sampai ujungnya kata yang saya tulis,bila ada kesalahan atau tidak lengkap dan jelas mohoon maaf.

Keterampilan Menulis Puisi, Langkah-Langkah Menulis Puisi


Keterampilan Menulis Puisi, Langkah-Langkah Menulis Puisi - Jabrohim, dkk. (2003:17), menulis puisi merupakan wujud komunikasi tidak langsung (tulis) yang menekankan pada ekspresi diri, emosi, gagasan, dan ide. Selain itu, keterampilan menulis puisi merupakan aktivitas berpikir manusia secara produktif ekspresif serta didukung oleh proses pengetahuan, kebahasaan, dan teknik penulisan.

Wiyanto (2005:57), menulis puisi merupakan gagasan dalam bentuk puisi. Kita harus memilih kata-kata yang tepat dalam menulis puisi bukan hanya dapat maknanya, melainkan harus tepat bunyinya dan menggunakan kata-kata itu dengan sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan estetik

Keterampilan Menulis Puisi, Langkah-Langkah Menulis Puisi


Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa siswa dikatakan terampil dalam menulis Puisi jika berhasil dalam proses dan produk. Keberhasilan dalam proses jika siswa dan guru memiliki semangat dan minat dalam pembelajaran, sehingga suasana menjadi efektif dan kondusif. Keberhasilan dalam produk adalah tingkat pemahaman siswa terhadap keterampilan menulis puisi

Langkah-langkah Menulis Puisi
Endraswara (2003:220), menyebutkan ada beberapa tahap dalam menulis puisi antara lain tahap penginderaan, tahap perenungan atau pengendapan, dan tahap memainkan kata. Tahap tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Tahap penginderaan
Tahap penginderaan merupakan tahap awal dalam penciptaan puisi. Penyair sebelum menciptakan sebuah puisi terlebih dahulu melakukan pengideraan terhadap alam sekitar. Hal ini dilakukan untuk menemukan suatu keanehan yang terjadi di alam sekitar penyair. Keanehan-keanehan itu dijadikan penyair sebagai sumber inspirasi atau ide dalam menulis puisi.

2. Tahap Perenungan atau Pengendapan
Perenungan akan semakin mendalam jika disertai daya intuisi yang tajam. Intuisi dapat menimbulkan daya imajinasi yang pada akhirnya mampu memunculkan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin itulah yang dituangkan dalam bentuk puisi.

3. Tahap Merangkai Kata
Secara sederhana mencipta puisi hanya merangkai kata. Adapun unsur yang harus diperhatikan yaitu masalah estetika. Estetika adalah kecermatan dan kelihaian mencari, memilih, dan menyusun kata agar menjadi lebih indah sehingga memiliki nilai yang tinggi.

(Wiyanto 2005:52). Agar tahapan demi tahapan langkah dalam menulis puisi di atas dapat dilakukan dengan baik, maka sebelum menulis puisi perlu adanya motivasi dalam diri atau sikap awal yang harus ditumbuhkan agar keterampilan menulis puisi dapat berhasil dilakukan adalah (1) harus ada niat yang kuat. Dengan niat yang kuat kita tidak mudah menyerah ketika menjumpai berbagai kesulitan sehingga kita akan dapat belajar dan berlatih dengan sungguh-sungguh agar dapat
menguasai keterampilan menulis; (2) belajar dan berlatih menulis puisi; dan (3) membiasakan diri untuk membaca puisi yang sudah ada. Pilih puisi yang ditulis oleh penyair yang kita senangi kemudian terapkan pada tiga N, yaitu niteni, nirokake, dan nambahi. Ungkapan jawa itu berarti memperhatikan, mengingat-ingat, menirukan, dan menambahkan. Meniru di sini bukan berarti menjiplak kata demi kata atau kalimat demi kalimat, yang kita tiru adalah cara menemukan tema,
cara memilih kata-kata yang tepat, cara merangkai kata-kata yang estetis, dan cara mendayagunakan majas dalam puisi (Wiyanto 2005:48). 

Sekian mengenai contoh keterampilan menulis puisi dan langkah-langkah menulis pusi juga cara cara menulis puisi yang benar menurut para ahli yang dapat saya sampaikan semoga saja bermanfaat dan menjadi ilmu berguna untuk semuanya.


Pengertian Pantun, Jenis-Jenis Pantun, Ciri-Ciri Pantun

Pengertian Pantun, Jenis-Jenis Pantun, Ciri-Ciri Pantun,- Pantun adalah bentuk puisi lama yang terdiri atas empat larik, berima silang (a-b-a-b). Larik pertama dan kedua disebut sampiran atau bagian objektif. Biasanya berupa lukisan alam atau hal apa saja yang dapat diambil sebagai kiasan. Larik ketiga dan keempat dinamakan isi atau bagian subjektif. 




Menurut Surana (2010:31). Pengertian lain R.O. Winsted, seorang pengkaji budaya melayu menyatakan bahwa pantun bukanlah sekadar gubahan kata-kata yang mempunyai rima dan irama, tetapi merupakan rangkaian kata indah untuk menggambarkan kehangatan cinta, kasih sayang, dan rindu dendam penuturnya. Dengan kata lain, pantun mengandung ide kreatif dan kritis serta padat kandungan maknanya. 

Pantun adalah bentuk puisi Indonesia (melayu), tiap bait (kuplet) biasanya terdiri dari empat baris yang bersanjak (a-b-a-b), tiap larik biasanya terdiri atas empat kata, baris pertama dan baris kedua biasanya untuk tumpuan (sampiran) saja sedangkan pada baris ketiga dan keempat merupakan isi; peribahasa sindiran”. Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 1016). Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.

Struktur Pantun
Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun. Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan. Meskipun pada umumnya sampiran tak berhubungan dengan isi kadang-kadang bentuk sampiran membayangkan isi. Sebagai contoh dalam pantun di bawah ini:
Air dalam bertambah dalam
Hujan di hulu belum lagi teduh
Hati dendam bertambah dendam
Dendam dahulu belum lagi sembuh
Beberapa sarjana Eropa berusaha mencari aturan dalam pantun maupun puisi lama lainnya. Misalnya satu larik pantun biasanya terdiri atas 4-6 kata dan 8-12 suku kata. Namun aturan ini tak selalu berlaku.

Ciri-Ciri Pantun
Abdul Rani (2006:23) mengatakan bahwa ciri-ciri pantun sebagai berikut:
Terdiri atas empat baris.
Tiap baris terdiri atas 9 sampai 10 suku kata
Dua baris pertama disebut sampiran dan dua baris berikutnya berisi maksud si pemantun. Bagian ini disebut isi pantun.

Syarat-Syarat Pantun
Adapun syarat-syarat membuat pantun sebagai berikut :
a. Satu bait pantun terdiri dari 4 baris
b. Baris ke-1 dan ke-2 adalah sampiran dan baris ke-3 dan ke-4 adalah isi pantun
c. Satu baris pantun terdiri dari 8 - 12 suku kata
d. Pantun bersajak a-b-a-b

Jenis-Jenis Pantun
Menurut Nursisto dalam buku Ikhtisar Kesusastraan Indonesia (2000:11-14) membagi jenis-jenis pantun yakni :
a. Berdasarkan isinya, pantun dibagi menjadi tiga: (1) Pantun kanak-kanak : pantun bersukacita dan pantun berdukacita, (2) Pantun muda : Pantun nasib/dagang dan pantun perhubungan. Pantun perhubungan terbagi lagi menjadi pantun perkenalan, pantun berkasih-kasihan, pantun perceraian, dan pantun beriba hati. Dan (3) Pantun tua : pantun adat, pantun agama, dan pantun nasihat.
b. Berdasarkan banyaknya baris tiap bait dibagi menjadi: (1) Pantun dua seuntai atau pantun kilat, (2) Pantun empat seuntai atau pantun empat serangkum, (3) Pantun enam seuntai atau delapan seuntai, atau pantun enam serangkum, delapan serangkum (talibun). 

Menurut Abdul Rani (2006:23-27) mengklasifikasikan jenis-jenis pantun berdasarkan isinya yaitu :
a. Pantun Anak-Anak, terdiri dari : pantun anak-anak jenaka, pantun anak kedukaan, dan pantun anak teka-teki,
b. Pantun Muda-Mudi, terdiri dari : pantun muda mudi kejenakaan, pantun muda-mudi dagang, pantun muda-mudi cinta kasih, dan pantun muda-mudi ejekan.
c. Pantun Tua, terdiri dari : pantun tua kiasan, pantun tua nasihat, pantun tua adat, pantun tua agama, dan pantun tua dagang

Menurut Effendi (1983:29), membagi pantun menurut jenis dan isinya yakni:
a. Pantun anak-anak, berdasarkan isinya dibedakan menjadi 4: pantun bersukacita, pantun berdukacita, pantun jenaka atau pantun teka-teki
b. Pantun orang muda, berdasarkan isinya dibagi 5 : pantun dagang atau pantun nasib, pantun perkenalan, pantun berkasih-kasihan, pantun perceraian dan pantun beriba hati
c. Pantun orang tua, berdasarkan isinya terbagi 3 : pantun nasihat, pantun adat, dan pantun agama 

Menurut Suroto (1989:44-45), jenis jenis pantun terbagi menjadi dua yaitu:
a. Menurut isinya, terdiri dari : pantun anak-anak (biasanya berisi permainan), pantun muda mudi (biasanya berisi percintaan), pantun orang tua (biasanya berisi nasihat atau petuah), pantun jenaka (biasanya berisi sindiran sebagai bahan kelakar), dan pantun teka-teki
b. Menurut bentuk atau susunannya, terbagi dua yakni 
1. pantun berkait, yaitu pantun yang selalu berkaitan antara bait pertama dengan bait yang kedua, bait kedua dengan bait ketiga dan seterusnya. Adapun susunan kaitannya adalah baris kedua bait pertama menjadi baris pertama pada bait kedua, baris keempat bait pertama dijadikan baris ketiga pada bait kedua dan seterusnya. 
2. Pantun kilat, sering disebut juga karmina, ialah pantun yang terdiri atas dua baris, baris pertama merupakan sampiran sedang baris kedua merupakan isi. Sebenarnya asal mula pantun ini juga terdiri atas empat baris, tetapi karena barisnya pendek-pendek maka seolah-olah kedua baris pertama diucapkan sebagai sebuah kalimat, demikian pula kedua baris yang terakhir. 

Harga iPhone Apple SE 16GB dan 64GB

Harga Apple iPhone SE- Sebagai salah satu distribusi HP terbaik di dunia Apple iPhone kembali merilis dan  meluncurkan produk teranyar mereka yakni Apple iPhone SE. iPhone SE yang rancang oleh perusahaan asal Amerika Serikat tersebut di ciptakan sebagai produk yang sangat stylis serta mampu bersandang dengan iPhone 5s atau dengan iPhone 6s sejenisnya. 

Sebuah predikat inovator terbaik di dunia  dalam pengembangkan dunia teknologi, mereka mampu menggabungkan dua jenis iPhone terbaik mereka yakni dari varian iPhone 5s dengan iPhone 6s hingga tercipta satu smartphone dengan kualitas terbaik serta tampilan yang sangat stylis yaitu Apple iPhone SE. 

Dalam sebuah penciptaan iPhone SE, untuk layar meraka mengadopsi dari varian iPhone 5s yang memiliki layar 4 inci sedangkan untuk prosesornya mengadopsi dari iPhone 6. Dengan menerapkan layar 4 inci serta motion co-processor M9, meraka mengharapkan  akan terciptanya kesuksesan baru seperti yang mereka dapatkan pada tahun lalu dari iPhone 5s. Dan kini dengan dirilisnya iPhone SE ini digadangkan sebagai jawaban konsumen dengan daya emosional untuk memiliki smartphone kualitas teknologi yang sangat luar biasa. 

Suatu hal yang sangat mengjutkan dari iPhone SE ini adalah harganya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan jenis iPhone 5s atau iPhone 6s. Padahal iPhone SE ini dirancang dengan prosesor motion co-processor M9 dengan asisten digital Siri hands-free  seperti halnya iPhone 6 atau iPhone A9. Bahkan untuk camera  yang diterapkan dalam smartphone iPhone SE ini adalah 12 megapixel dengan dual LED Flash serta sudah menerapkan dukungan jaringan LTE berkecepatan hingga 150 Mbps.

Untuk harga yang ditawarkan smartphone ini untuk kapasitas memori 16GB, iPhone SE hanya di hargai 399 dollar AS atau setara 5,2 jutaan sedangkan untuk Harga Apple iPhone SE 64GB diberikan harga 499 dollar AS atau setara Rp 6,5 jutaan. Tentunya dengan harga yang ditawarkan tersebut relatif lebih murah di banding dengan harga iPhone 5s atau iPhone 6s.

Pengertian Kutipan, Jenis-Jenis Kutipan, Fungsi Kutipan


Pengertian Kutipan, Jenis-Jenis Kutipan, Fungsi Kutipan - kutipan adalah gagasan, ide, pendapat yang diambil dari berbagai sumber. Proses pengambilan gagasan itu disebut mengutip. Gagasan itu bisa diambil dari kamus, ensik lopedi, artikel, laporan, buku, majalah, internet, dan lain sebagainy. Kutipan adalah pengokohan argumentasi dalam sebuah karangan. Seorang penulis tidak perlu membuang waktu untuk menyelidiki suatu hal yang sudah dibuktikan kebenarannya oleh penulis lain, penulis cukup mengutip karya orang lain tersebut. 

Dalam kamus Bahasa Indonesia kata kutipan bersala dari kata,  kutip, mengutip 1 memungut benda kecil kecil satu demi satu: ~ uang yang berjatuhan di tanah; 2 mengambil perkataan atau kalimat-kalimat dari buku dan sebagainya; memetik karangan dan sebagainya; menukil:  pasal pasal penting dari kitab undang-undang; 3 mengumpulkan dari berbagai sumber: derma. Kalau  kutipan n pungutan; petikan; nukilan;  pengutipan orang yang mengutip; pemungut dan pengutipan  cara atau perbuatan mengutip.


Kutipan dalam penulisan karya ilmiah atau lainnya dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni kutipan langsung dan kutipan tak langsung.

1. Kutipan langsung
Kutipan langsung adalah pernyataan yang ditulis dalam susunan aslinya tanpa mendapatkan perubahan sedikitpun. Atau mengutip sesuai dengan sumber aslinya, artinya kalimat-kalimat tidak ada yang diubah. Bahan yang dikutip mesti direproduksi tepat seperti apa adanya sesuai sumber, tak terkecuali ejaan tanda-tanda baca, dan sebagainya.
kutipan langsung ini diperlukan dengan tujuan untuk mempertahankan keaslian pernyataan itu. Seseorang mungkin membuat pernyataan yang otentik, yang apabila ditulis ke dalam bentuk pernyataan yang lain, terkesan akan kehilangan keotentikannya.

Kutipan kurang dari 40 kata.
Kutipan yang kurang dari 40 kata, maka ditulis diantara tanda kutip (“…”) sebagai bagian yang terpadau dalam teks utama, dan diketik dengan jarak dua spasi. Contoh: Ibu Hernawati (1990: 123) menyimpulkan “ada hubungan yang erat antara guru dengan muridnya dalam kegiatan belajar mengajar.”

Kutipan 40 kata atau lebih
Apabila kutipan aslinya berisi minimal 40 kata, maka ditulis tanpa tanda kutip secara terpisah dari teks yang mendahuluinya, dan ditulis pada garis baru, sejajar dengan awal alinea baru, atau ditulis 1,2 cm dari garis tepi sebelah kiri dan kanan, dan diketik dengan jarak satu spasi (tunggal). Contoh:
Menurut Mariam Budiardjo (1992:4-5), dalam pemilu yang menggunakan system distrik:

Kutipan yang sebagian dihilangkan
Apabila dalam mengutip langsung ada kata-kata dalam kalimat yang dihilangkan, maka kata-kata yang dibuang, diganti dengan tiga titik. Contoh:
“Semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah … diharapkan sudah melaksanakan kurikulum baru.”

2. Kutipan Tidak Langsung
Kutipan tidak langsung merupakan pengungkapan kembali pendapat orang lain dengan kata-katanya atau dalam bahasa sendiri. Yang dikutip hanya pokok-pokok pikiran, atau ringkasan dan kesimpulan dalam sebuah tulisan, selanjutnya diungkapkan dengan bahasa penulis itu sendiri.
          
Kutipan tidak langsung ini paling sedikit dapat dibedakan menjadi dua jenis, atau dua cara dalam mengutipnya. Pertama, dengan melakukan ringkasan, membuat kesimpulan, atau merujuk pokok-pokok pikiran orang lain.Kedua, dengan melakukan paraphrase, yakni pengubahan struktur/susunan pada kalimat aslinya menjadi suatu kalimat yang lain tanpa mengubah makna atau subtansi kalimat/alinea aslinya. Di samping itu kutipan tidak langsung ini dibedakan menjadi kutipan tidak langsung panjang dan kutipan tidak langsung pendek.
1. Landasan teori
2. Penguat pendapat penulis
3. Penjelasan suatu uraian
4. Bahan bukti untuk menunjang pendapat itu.

Fungsi lain dari kutipan adalah
1. Menunjukkan kualitas ilmih yang lebih tinggi.
2. Menunjukkan kecermatan yang lebih akurat.
3. Memudahkan penilaian penggunaan sumber dana.
4. Memudahkan pembedaan data pustaka dan ketergantungan tambahan.
5. Mencegah pengulangan penulisan data pustaka.
6. Meningkatkan estetika penulisan.
7.Memudahkan peninjauan kembali penggunaan referensi, dan memudahkan penyuntingan naskah yang terkait dengan data pustaka.