Planet Xperia

Kumpulan Materi Pelajaran Bahasa Indonesia

Krangka Menulis Teks Eksposisi, Tahapan Menulis Teks Eksposisi


Krangka Menulis Teks Eksposisi, Tahapan Menulis Teks Eksposisi - Eksposisi atau ekspositori juga bisa disebut paparan yaitu suatu paragraf yang menampilkan suatu objek yang peninjauannya tertuju pada satu unsur saja dengan cara penyampaiaan yang menggunakan perkembangan analisis kronologis atau keruangan (Arifin danTansai, 2002:129). Dengan demikian tujuan utama karangan eksposisi adalah untuk memberitahu, mengupas, menguraikan, atau menerangkan sesuatu. 

Adapaun langkah menyusun karangan eksposisi adalah menentukan topik atau tema, menetapkan tujuan, mengumpulkan datadari berbagai sumber, menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih, dan menggembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi. Pada karangan eksposisi penulis berniatuntuk memberikan informasi kepada pembaca, sehingga pada karangan eksposisi mengandalkanstrategi pengembangan alinea seperti melalui pemberian contoh, proses, sebab akibat, klasifikasi,definisi, analisis, komparasi dan kontras.

Agar dapat menulis karangan eksposisi dengan baik, penulis perlu memiliki metode ataustrategi dalam mengembengkan paragraf. Menurut Alwasilah dan Alwasilah (2007:112-113) adatujuh metode atau strategi yang dapat digunakan untuk mengembangkan paragraf eksposisiyaitu:1.

1.      Metode contoh Pengembangan paragraf menggunakan metode contoh adalah cara yang paling sederhanatapi efektif bagi penulis untuk menyampaikan gagasan kepada pembaca. Contoh bisa berupa kata, kalimat, atau alinea. Metode ini biasanya dimulai dengan ungkapan misalnya, sebagai contoh, sebut saja, dan sebagainya.2.
2.      Metode proses Pengembangan paragraf dengan metode proses, penulis mendeskripsikan urutan langkah-langkah bagaimana mengerjakan sesuatu atau bagaimana sesuatu bekerja. Biasanyasecara kronologis sebuah langkah diikuti langkah berikutnya. Oleh karena itu makadalam sebuah proses terkandung narasi dan sebab akibat.3.
3.         Metodesebab akibat Metode sebab-akibat dalam pengembangan paragraf menjabarkan bahwa sebab selalumengarah pada satu akibat atau lebih, dan akibat satu sebab atau lebih. Dengan metodeini penulis mengeskplorasi kaitan sebab akibat.4.
4.           Metode klasifikasi Paragraf yang dikembangkan dengan metode klasifikasi pada intinya mengenalkan karakteristik yang sama dari sejumlah butir yang ada. Dalam menentukan klasifikasi penulis melakukan strategi komparasi-kontras.5.
5.           Metode definisi Metode definisi secara formal terdiri tiga hal, yaitu konsep yang diberi definisi, kelas ataukelompoknya dan hal-hal atau karakteristik. Definisi ini bisa berupa definisi pendek sarikamus atau keseluruhan esay menjelaskan sesuatu.6.
6.       Metodeanalisis Metode pengembangan paragraf dengan analisis yakni sebagai cara berpikir dan menulisdengan memecahkan atau membagi sesuatu menjadi bagian dengan tujuan agar lebihdimengerti. Esay analitis lazim dilakukan peneliti untuk mempelajari sesuatu.
7.    Definisi komparasi kontras Metode pengembangan komparasi-kontras penulis harus menjaga keseimbangan antarakeduanya. Komparasi berfokus pada persamaan sedang kontras berfokus pada perbedaan

Struktur Puisi, Struktur Batin Puisi, Struktur Fisik Puisi

Struktur Puisi, Struktur Batin Puisi, Struktur Fisik Puisi - Menurut Aminuddin (2009:139), Unsur lapis makna sulit dipahami sebelum mengetahui dan memahami bangun strukturnya. Puisi terdiri atas struktur batin dan struktur fisik.

Struktur batin puisi atau sering pula disebut sebagai hakikat puisi, meliputi hal-hal sebagai berikut:

Tema/makna (sense);
media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.

Rasa (feeling),
yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.

Nada (tone),
yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.

Amanat/tujuan/maksud (itention);
sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya.
Struktur fisik puisi atau terkadang disebut pula metode puisi, adalah sarana-sarana yang digunakan oleh penyair untuk mengungkapkan hakikat puisi. Struktur fisik puisi meliputi hal-hal sebagai berikut.

Perwajahan puisi (tipografi),
yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat menentukan pemaknaan terhadap puisi.

Diksi,
yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.

Imaji,
yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, mendengar, dan merasakan seperti apa yang dialami penyair
(4) Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll, sedangkan kata kongkret “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll.

Bahasa figuratif,
yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya
memancarkan banyak makna atau kaya akan makna Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars
pro toto, totem pro parte, hingga paradoks.

Versifikasi,
yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.), (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak
penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya dan (3) pengulangan kata/ungkapan. Ritma adalah tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.

Pengertian Sosialisasi, Jenis-Jenis Sosialisasi, Fungsi Sosialisasi

Pengertian Sosialisasi, Jenis-Jenis Sosialisasi, Fungsi Sosialisasi - Secara garis besar pengertian sosialisasi dapat dipandang sebagai suatu proses belajar mengajar.Melalui sosialisasi,individu belajar menjadi anggota masyarakat,dimana prosesnya tidak semata mata mengajarkan pola-pola prilaku sosial kepada individu tetapi juga individu tersebut mengembangkan dirinya atau melakukan proses pendewasaan dirinya.

Menurut Charlotte Buchler
Sosialisasi adalah proses yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri bagaimana cara hidup dan berpikir kelompoknya agar ia dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya.

Sosialisasi Menurut Peter Burger
Sosialisasi merupakan sebuah proses seorang anak menjadi anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.

Sosialisasi Meurut Burce J. Cohen
Sosialisasi adalah proses-proses manusia mempelajari tata cara kehidupan dalam masyarakat (ways of life in society), untuk memperoleh kepribadian dan membangun kapasitasnya sehingga dapat berfungsi dengan baik sebagai individu maupun sebagai aggota suatu kelompok.

Sosialisasi Menurut Robert M.Z.Lawang
Sosialisasi adalah proses mempelajari norma,nilai,peran dan semua persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan partisipasi yang efektif dalam kehidupan sosial.

Sosialisasi Menurut Soerjono Soekamto
Sosialisasi adalah proses dimana anggota masyarakat yang baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat dimana ia menjadi anggota.

Berdasarkan pengertian sosialisasi diatas,dapat dikatakan bahwa sosilasasi merupakan proses dimana seseorang mempelajari pola-pola hidup masyarakat sesuai dengan nila-nilai,norma kebiasaan yang berlaku untuk berkembang sebagai anggota masyarakat dan sebagai individu.
Berdasarkan penertian sosialisasi atau batasan sosialisasi diatas dapat diambil beberapa poin penting yaitu:

Sosialisasi berjalan melalui proses belajar untuk memahami,menghayati,menyesuaikan, dan melaksanakan tindakan sosial yang sesuai dengan pola perilaku masyarakatnya (behavioral patterns of society).

Sosialisasi berjalan bertahap dan berkesinambungan (kontinu),mulai dari sejak individu dilahirkan hingga dia mati.

Sosialisasi berhubungan erat dengan enkulturasi atau proses pembudayaan,yaitu proses belajar dari seorang individu untuk belajar,menegenal,menghayati,dan menyesuaikan alam pikiran serta cara dia bersikap terhadap system adat,bahasa,seni,norma,agama dan seluruh peratauran dan pendirian yang ada dalam lingkungan kebudayaan masyarakat.


Menurut bruce j.cohen,sosialisasi memiliki beberapa tujuan yaitu:
Sosialisasi bertujuan agar tiap individu mendapatkan bekal ketrampilan yang kelak nantinya akan dia butuhkan untuk tetap hidup;

Sosialisasi bertujuan agar setiap individu dapat berkomunikasi yang tentu saja dengan efektif sehingga kemampuan membaca,menulis,dan berbicara dapat berkembang;

Sosialisasi bertujuan agar mengendalikan fungsi-fungsi organic melalui latiha-latihan mawas diri yang tepat

Sosialisasi bertujuan sehingga setiap individu dapat membiasakan dirinya dengan nilai-nilai dan kepercayaan pokok yang ada pada masyarakat.

Membentuk system perilaku melaui pengalaman yang dipengaruhi oleh watak pribadinya,yaitu bagaimana ia memberikan reaksi terhadap suatu pengalaman menuju proses pendewasaan.

Cara Menulis Yang Baik Dan Ciri-Ciri Tulisan Yang Baik Lengkap Menurut Para Ahli


Cara Menulis Yang Baik Ciri-Ciri Tulisan Yang Baik - Asas asas menulis menurut para ahli seperti Nuruddin (2011:39 46) dalam buku yang berjudul Dasar Dasar Penulisan. Dalam presentasinya, ia memberikan contoh kalimat yang berbunyi “Ayah orang ini adalah ayah anak saya yang ayahnya sedang sakit diobati anak tetangga saya”. Pada kalimat tersebut, siapakah orang yang dimaksud? Berdasarkan contoh tersebut, kegiatan menulis memerlukan asas asas menulis yang dijelaskan berikut ini.


Cara Menulis Yang Baik Dan Ciri-Ciri Tulisan Yang Baik



1.    Kejelasan ( clarity)
Asas kejelasan memberikan kemudahan bagi pembaca. Tulisan penulis dapat dibaca dan dimengerti oleh pembaca. Tulisan tidak menimbulkan salah tafsir. Ide tidak samar samar atau kabur. Mengutip pendapat HW Fowler, asas kejelasan tampak pada tulisan yang menggunakan kata umum, bukan kata khusus. Tulisan juga bersifat konkret (bukan abstrak), tunggal (bukan panjang lebar), pendek (bukan panjang), menggunakan bahasa sendiri (bukan bahasa asing).

2.    Keringkasan (consiseness)
Asas keringkasan harus diperhatikan penulis agar tidak membuang buang waktu pembaca. Meskipun demikian, bukan berarti tulisan harus pendek, melainkan tidak menggunakan bahasa yang berlebihan. TTidak menghamburkan kata secara semena mena, tidak mengulang, tak berputar putar dalam menyampaikan gagasan.

3.    Ketepatan ( correctness)
Asas ketepatan dapat menyebabkan asumsi penulis mengalami titik kesamaan dengan pembaca. Suatu penulisan harus dapat menyampaikan butir gagasan kepada pembaca dengan kecocokan seperti yang dimaksud penulisnya. Artinya, tidak terjadi kesalahan berasumsi hingga menimbulkan kesalahartian oleh pembaca. Akibatnya, pesan penulis tidak dapat dipahami dengan baik oleh pembaca.

4.    Kesatupaduan (unity)
Kesatupaduan gagasan pokok dalam tiap paragraf harus diperhatikan menulis dalam menguraikan ga
gasan/pikiran. Pembaca dimudahkan dalam menangkap ide ide penulis. Ide ide utama dapat dengan mudah ditangkap oleh pembaca dengan bantuan ide ide penjelas.

5.    Pertautan (coherence)
Antarbagian tulisan harus bertautan satu sama lain (antar alenia atau kalimat). Tautan tautan ini mempermudah pembaca untuk menangkap gagasan yang disampaikan penulis.

6.    Penegasan (emphasis)
Adanya penonjolan atau memiliki derajat perbedaan antarbagian dalam tulisan memberikan kemudahan kepada pembaca dalam menangkap tekanan ide ide tertentu. Dengan demikian, ide ide besar yang dimiliki penulis dapat dipahami dengan baik oleh pembaca

Ciri-Ciri Tulisan Yank Baik
Asas asas menulis di atas diharapkan membawa penulis menghasilkan tulisan yang baik. Berikut ini ciri ciri tulisan yang baik.
1. Memiliki kejujuran penulis
Kepribadian penulis sebenarnya tampak dari hasil menulis. Sikap jujur penulis
tampak dalam tulisan tulisan yang dihasilkan. Sikap adil dalam merujuk pendapat orang lain dengan mencatumkan rujukan tampak pada tulisan. Tidak ada unsur kesengajaan dalam menjiplak tulisan
tulisan orang lain, kecuali faktor lupa yang dapat dianggap sebagai suatu kewajaran.

2. Dihasilkan dari kerangka karangan
Karangan tulisan yang baik dihasilkan dari perencanaan yang baik pula. Perencanaan karangan tulisan memberikan keleluasaan penulis dalam mendaftar, mengurutkan, dan menuangkan gagasan yang dimiliki ke dalam bentuk tulisan. Tidak ada gagasan yang tertinggal. Tidak ada pula lompatan
lompatan gagasan. Tulisan menjadi sistematis dan gagasan mudah dipahami pembaca.

3. Kemenarikan tulisan
Kemenarikan tulisan dapat muncul dari kemasan judul dan isi bacaan. Prinsip prinsip penulisan judul harus dipatuhi penulis. Misalnya judul harus memcerminkan isi karangan, jumlah kata yang proporsional, dan menumbuhkan rasa penasaran. Ketertarikan pembaca akan memunculkan minat untuk membaca tulisan.

4.Kemurnian gagasan
Kemanarikan tulisan juga ditentukan oleh kemurnian gagasan/pikiran. Jika gagasan/pikiran sudah banyak disampaikan oleh orang lain, akan muncul kejenuhan, kebosanan, dan rasa basi bagi pembaca. Tulisan ini tidak memberikan daya tarik yang cukup untuk dibaca. Penulis dapat menuangkan gagasannya dari kejadian/peristiwa yang terjadi dalam kehidupan nyata, berimajinasi, dan bersumber dari kajian pustaka dan pengembangannya. Namun perlu diingat bahwa pengangkatan gagasan/pikiran yang bersumber dari tulisan orang lain memiliki konsekuensi. Penulis yang merujuk pendapat penulis utama harus mencatumkan nama dan tahun dalam kegiatan merujuk dan mencantumkan daftar rujukan (di saat lain, digunakan daftar pustaka) di akhir tulisan. Penghargaan kepada penulis utama layak diberikan.

5.Memiliki gagasan/ide utama dan penjelas
Tulisan yang baik memiliki gagasan utama. Gagasan utama dikemas secara deduktif, induktif, atau campuran. Gagasan utama ini diwujudkan melalui kalimat utama. Gagasan utama ini dijelaskan oleh gagasan penjelas. Gagasan penjelas ini diwujudkan melalui kalimat penjelas.

6.Kesatuan gagasan
Tulisan terdiri atas berbagai gagasan/pikiran, baik bersifat utama maupun penjelas. Penulis bukan hanya menyebar dan menjabarkan gagasan, melainkan harus menyatukan dengan baik. Kesatuan gagasan dapat memberikan pemahaman yang baik kepada pembaca.

7.Keruntutan gagasan
Tulisan yang baik seharusnya memiliki keruntutun gagasan/pikiran yang baik. Penulis bukan hanya menjabarkan gagasan dalam tulisan, melainkan harus menata dan mengurutkan gagasan. Hal ini bertujuan untuk menyusun dan menentukan urutan pemahaman pembaca sehingga menerima pesan penulis dengan baik.

8. Kohesi dan koheren
Hubungan keterikatan dalam tulisan mutlak diperlukan. Hubungan keterikatan ini disebut koherensi dan kohesi. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, koherens adalah hubungan logis antar kalimat sebuah paragraf. Hubungan logis ini dibangun untuk menciptakan kesatuan makna. Kalimat kalimat yang dirangkai dan dipisahkan dengan tanda titik (.) ini memiliki hubungan yang dapat diterima dengan akal. Hubungan ini erat kaitannya dengan makna sebagai bentuk kalimat penjelas dari kalimat utama. Semakin erat dan logis hubungan kalimat akan semakin mempermudah pemahaman pembaca atas rangkaian makna yang tersaji. Kohesi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah keterikatan antarunsur dalam struktur sintaksis atau struktur wacana dengan penanda konjugasi,pengulangan, penyulihan, dan pelesapan. Selain memiliki hubungan logis antarkalimat, paragraf memiliki keterikatan unsur unsur pembangun sebagai penanda. Unsur unsur ini memiliki keterikatan erat karena merujuk pada acuan kalimat sebelumnya. Jika koherensi mengacu pada rujukan makna, acuan kohesi adalah unsur unsur penanda struktur kalimat, misalkan Dia tetap berangkat sekolah meskipun hujan 

9.Kelogisan
Kelogisan tulisan merupakan faktor mudah tidaknya tulisann diterima pembaca. Jika tulisan dapat diterima akal, pembaca akan menuntaskan bacaan. Namun, jika banyak ditemukan tulisan yang tidak dapat diterima akal, pembaca belum tentu akan menuntaskan bacaan. Dengan demikian, sia sia saja usaha penulis dalam menyajikan gagasannya.

10.Penekanan
Dalam sebuah tulisan terdapat berbagai sebaran gagasan. Jika penulis hendak memberikan perhatian khusus sebuah gagasan, dapat digunakan sebuah penekanan. Penekanan pada bagian tertentu sebuah tulisan memberikan kemudahan pembaca dalam menangkap gagasan yang dikhususkan oleh penulis.

11. Bahasa yang sesuai dengan kelompok pembaca
Kemampuan bahasa kelompok pembaca seharusnya menjadi perhatian bagi penulis. Gagasan penulis jika disampaikan dengan bahasa yang tidak dipahami oleh pembaca akan sia sia. Setidaknya, penulis dapat memperkirakan kemampuan sasaran pembaca tulisannya, misalnya (a) ditujukan untuk anak anak, remaja, atau dewasa atau (b) ditujukan untuk orang awam/di luar bidang yang digeluti.

12. Dipahami oleh kelompok pembaca
Ciri terakhir tulisan yang baik tentu harus dipahami oleh pembaca. Harapannya, tiap gagasan yang dituangkan penulis dapat dipahami dengan baik oleh pembaca. Jika tidak dapat dipahami, kerugian ditanggung penulis dan pembaca. Gagasan penulis tidak dapat diterima pembaca dan pembaca mengalami kerugian materi dan waktu.

Dengan adanya info diatas mengenai seputar cara menulis yang baik dan ciri ciri tulisan yang baik semoga bermanfaat,bagi yg inginmengetahaui informasi lain seperti Pengertian Membaca silahkan cek diweb ini dengan postingan yang berbeda,dari awal sampai ujungnya kata yang saya tulis,bila ada kesalahan atau tidak lengkap dan jelas mohoon maaf.

Keterampilan Menulis Puisi, Langkah-Langkah Menulis Puisi


Keterampilan Menulis Puisi, Langkah-Langkah Menulis Puisi - Jabrohim, dkk. (2003:17), menulis puisi merupakan wujud komunikasi tidak langsung (tulis) yang menekankan pada ekspresi diri, emosi, gagasan, dan ide. Selain itu, keterampilan menulis puisi merupakan aktivitas berpikir manusia secara produktif ekspresif serta didukung oleh proses pengetahuan, kebahasaan, dan teknik penulisan.

Wiyanto (2005:57), menulis puisi merupakan gagasan dalam bentuk puisi. Kita harus memilih kata-kata yang tepat dalam menulis puisi bukan hanya dapat maknanya, melainkan harus tepat bunyinya dan menggunakan kata-kata itu dengan sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan estetik

Keterampilan Menulis Puisi, Langkah-Langkah Menulis Puisi


Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa siswa dikatakan terampil dalam menulis Puisi jika berhasil dalam proses dan produk. Keberhasilan dalam proses jika siswa dan guru memiliki semangat dan minat dalam pembelajaran, sehingga suasana menjadi efektif dan kondusif. Keberhasilan dalam produk adalah tingkat pemahaman siswa terhadap keterampilan menulis puisi

Langkah-langkah Menulis Puisi
Endraswara (2003:220), menyebutkan ada beberapa tahap dalam menulis puisi antara lain tahap penginderaan, tahap perenungan atau pengendapan, dan tahap memainkan kata. Tahap tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Tahap penginderaan
Tahap penginderaan merupakan tahap awal dalam penciptaan puisi. Penyair sebelum menciptakan sebuah puisi terlebih dahulu melakukan pengideraan terhadap alam sekitar. Hal ini dilakukan untuk menemukan suatu keanehan yang terjadi di alam sekitar penyair. Keanehan-keanehan itu dijadikan penyair sebagai sumber inspirasi atau ide dalam menulis puisi.

2. Tahap Perenungan atau Pengendapan
Perenungan akan semakin mendalam jika disertai daya intuisi yang tajam. Intuisi dapat menimbulkan daya imajinasi yang pada akhirnya mampu memunculkan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin itulah yang dituangkan dalam bentuk puisi.

3. Tahap Merangkai Kata
Secara sederhana mencipta puisi hanya merangkai kata. Adapun unsur yang harus diperhatikan yaitu masalah estetika. Estetika adalah kecermatan dan kelihaian mencari, memilih, dan menyusun kata agar menjadi lebih indah sehingga memiliki nilai yang tinggi.

(Wiyanto 2005:52). Agar tahapan demi tahapan langkah dalam menulis puisi di atas dapat dilakukan dengan baik, maka sebelum menulis puisi perlu adanya motivasi dalam diri atau sikap awal yang harus ditumbuhkan agar keterampilan menulis puisi dapat berhasil dilakukan adalah (1) harus ada niat yang kuat. Dengan niat yang kuat kita tidak mudah menyerah ketika menjumpai berbagai kesulitan sehingga kita akan dapat belajar dan berlatih dengan sungguh-sungguh agar dapat
menguasai keterampilan menulis; (2) belajar dan berlatih menulis puisi; dan (3) membiasakan diri untuk membaca puisi yang sudah ada. Pilih puisi yang ditulis oleh penyair yang kita senangi kemudian terapkan pada tiga N, yaitu niteni, nirokake, dan nambahi. Ungkapan jawa itu berarti memperhatikan, mengingat-ingat, menirukan, dan menambahkan. Meniru di sini bukan berarti menjiplak kata demi kata atau kalimat demi kalimat, yang kita tiru adalah cara menemukan tema,
cara memilih kata-kata yang tepat, cara merangkai kata-kata yang estetis, dan cara mendayagunakan majas dalam puisi (Wiyanto 2005:48). 

Sekian mengenai contoh keterampilan menulis puisi dan langkah-langkah menulis pusi juga cara cara menulis puisi yang benar menurut para ahli yang dapat saya sampaikan semoga saja bermanfaat dan menjadi ilmu berguna untuk semuanya.